Sabtu, 06 November 2010

peter schmeichel






Manchester United hingga sekarang belum menemukan penjaga gawang fenomenal sehebat Peter Schmeichel, kiper terhebat abad 20. Kiper berkelas dunia datang silih berganti untuk menjaga gawang “Setan Merah”, tapi nama pria berdarah Polandia itu tak pernah dilupakan.

Schmeichel dikenal karena ia sangat sulit ditaklukkan. Di masanya, bomber tangguh sekelas Davor Suker (Kroasia, Real Madrid), Dennis Bergkamp (Belanda, Inter Milan), Gabriel Batistuta (Argentina, Fiorentina) dan sederet penyerang top lainnya sering dibuat frustasi ketika berhadapan dengan Schmeichel di laga kancah Eropa. Di liga domestik, musuh-musuh MU juga kerepotan menjebol gawangnya.

Memang kini sudah ada Edwin Van der Sar yang penampilannya begitu mengagumkan, terutama ketika menjadi pahlawan MU memenangi trofi Liga Champions 2007-2008. Namun, tetap saja kharisma Schmeichel tak tergantikan – baik di MU ataupun timnas Denmark.

Sebelum menjadi penjaga gawang profesional, Peter Schmeichel pernah bekerja sebagai tukang celup di pabrik tekstil, pembersih rumah, manajer toko dan tenaga pemasaran periklanan. Ia kemudian menjadi The Best Goalkeeper in the World.

Kiper kawakan ini bernama lengkap Peter Boleslaw Schmeichel. Nama tengah mantan penjaga gawang Manchester United (MU), Sporting Lisbon, Aston Villa dan Manchester City ini memperlihatkan status dirinya berkebangsaan campuran. Dia lahir 18 November 1963 di Gladsaxe, Denmark, dari rahim seorang ibu asli Denmark yang menikah dengan imigran Polandia.

Nama tengah itu hampir tidak pernah disebut, dicantumkan dalam daftar pemain tim nasional Denmark, atau dalam surat kontrak klub. Sampai usia tujuh tahun, Schmeichel masih berstatus warga negara Polandia. Ia menjadi warga negara Denmark setelah ayahnya bersedia menanggalkan kewarganegaraan Polandia.

Pecinta sepak bola dunia mengenalnya sebagai penjaga gawang yang melewati hari-hari terindah bersama MU. Terutama ketika Setan Merah meraih treble winner; Liga Primer, Liga Champions dan Piala FA, pada tahun 1999. Tujuh tahun sebelumnya, ia juga menjadi bagian penting sukses “The Dynamite” Denmark meraih gelar Euro 1992.

Namun, ia punya cerita buruk tentang kegagalan. Di masa-masa awal kariernya, ia gagal menyelamatkan Gladsaxe-Hero dari degradasi. Di tahun-tahun terakhir sebelum pensiun, ia meninggalkan Portugal setelah gagal menyelamatkan Sporting Lisbon dari zona degradasi. Padahal, tahun sebelumnya Schmeichel mengatar Sporting ke podium juara liga.

Banyak hal menarik pada diri penjaga gawang terbaik 1992 dan 1993, serta kiper papan atas abad ke-20 versi IFFHS ini.

Schmeichel pernah bekerja serabutan di banyak tempat dan jenis pekerjaan. Pekerjaan pertamanya sebagai tenaga pencelup di sebuah pabrik tekstil. Lalu menjadi tenaga pembersih di rumah-rumah selama 12 bulan, bekerja di kantor World Wildlife Fund (WWF), sales manager sebuah toko dan terakhir perusahaan periklanan milik bos Hvidovre, klub pertamanya.

Karier profesionalnya dimulai di Hvidovre. Pada musim 1985, Hvidovre menjadi klub dengan pertahanan terbaik, hanya kebobolan 40 gol dari 30 pertandingan, tapi terdegradasi. Musim berikutnya, Hvidovre promosi lagi. Tapi, tahun 1986 ia pindah ke Brondby IF. Tahun 1987 ia memenangkan gelar Liga Utama Denmark dan membuat debutnya di tim nasional Denmark di bawah pelatih Sepp Piontek.

Lima tahun bersama Brondby, Schmeichel memenangkan empat gelar. Ia membawa Brondby mencapai semifinal Piala UEFA. Usai turnamen, Schmeichel terpilih sebagai penjaga gawang terbaik ke-10 di dunia, dalam jajak pendapat yang dilakukan IFHHS.

Dia kemudian pindah ke Manchester United, tahun 1991, dengan transfer 530 ribu poundsterling. Alex Ferguson, pelatih MU, menyebut harga Schmeichel sebagai “bargain of the century”. Bersama MU, Schmeichel melewati tahun-tahun terbaiknya. Ia juga mengatar Denmark ke podium juara Euro 1992 dan dinobatkan sebagai penjaga gawang terbaik di dunia.

Musim 1992-1993, Schmeichel memperlihatkan sosoknya sebagai penjaga gawang tangguh dengan tidak kebobolan dalam 22 laga. MU meraih gelar Liga Primer kali pertama dalam 26 tahun. Namun, tahun 1993 ia nyaris dipecat Ferguson, karena bertengkar dengan pelatih usai laga melawan Liverpool. MU unggul tiga gol lebih dulu. Schmeichel membuat blunder, yang menyebabkan Setan Merah tertahan 3-3.

Schmeichel mengakhiri kariernya di MU tahun 1999 usai memenangi treble, karena merasa kariernya di MU terancam. Ia merasakan kemampuannya bermain di level tertinggi telah menurun, karena usianya telah 35 tahun. Ia pindah ke Liga Utama Portugal dan bergabung dengan Sporting Lisbon, yang dianggapnya tidak berstandar tinggi.

Dia kemudian kembali ke Inggris dan bermain dengan Aston Villa serta terakhir di Manchester City. Ia mundur dari sepak bola tahun 2002, dan bekerja sebagai komentator televisi hingga tahun 2005.

Schmeichel dikenal sebagai penjaga gawang yang menggunakan tubuhnya untuk mengintimdasi penyerang. Ia menjulang setinggi 1,93 meter dan mengenakan kostum berukuran besar. Sepanjang kariernya, Schmeichel mencetak 11 gol termasuk satu untuk tim nasional Denmark, serta tercatat paling banyak membela negaranya, yaitu 129 kali (antara tahun 1987 hingga 2001).

Dia tercatat sebagai pemilik klub anak-anak Hvidovre IF. Bersama sejumlah investor, Schmeichel sempat mengambil alih Brondby IF dengan 33,5 juta poundsterling dan ia menjadi direktur olahraga di klub itu.

Putranya Kasper Schmeichel mengikuti jejaknya dengan menjadi penjaga gawang Manchester City, klub terakhir yang diperkuat Schmeichel. Kasper telah dipanggil ke tim nasional U-19 Denmark.

Schmeichel adalah salah satu pemegang rekor paling lama tidak kebobolan di Liga Inggris (selain Petr Cech dan Edwin Van der Sar) serta penjaga gawang terbaik Manchester United sepanjang masa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar